1.ANGGRAENI
VEDINA
2.DELIMA
PRASETYA
3.ELFRIDA
BANGUN
4.NABELA
CHITRA S
5.HENDIKA
MISBAHUL M
6.JUMAIDI
PROGRAM
STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN
SEKOLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN
INSAN
CENDEKIA MEDIKA
JOMBANG
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sebagai
seorang manusia tentunya kita menginginkan tubuh yang sehat dan kuat. Tubuh
yang sehat dan kuat akan memberikan kemudahan dalam memberikan kemudahan dalam
melakukan berbagai macam aktivitas yang vital bagi setiap orang. Aktivitas yang
dilakukan tentunya mendukung proses kehidupan dan interaksi antar manusia yang
satu dan yang lainnya.
Setiap
detik dunia mengalami perubahan dalam berbagai aspek kehidupan seperti kemajuan
teknologi, perubahan gaya hidup, politik, budaya, ekonomi, dan ilmu
pengetahuan. Semua itu mengarah kepada penyeragaman, kita dapat melihat
polahidup, ekonomi, budaya, dan teknologi yang mirip disetiap negara.
Pola hidup tidak sehat tentu tidak benar dan harus
dihindari, pengetahuan tentang penyakit dan makanan menjadi prioritas utama
untuk menanamkan pola hidup sehat. Salah satu penyakit yang timbul adalah
apendisitis.
Apendiksitis adalah radang apendiks, suatu tambahan seperti
kantung yang tak berfungsi terletak pada bagian inferior dari sekum. Penyebab
yang paling umum dari apendisitis adalah obstruksi lumen oleh feses yang
akhirnya merusak suplai aliran darah dan mengikis mukosa menyebabkan inflamasi
(Wilson & Goldman, 1989).
Penjelasan
selanjutnya akan di bahas pada bab pembahasan.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas,
maka penulis mengambil rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana
anatomi dan fisiologi apendisitis?
2. Apa definisi
dari apendisitis?
3. Bagaimana
etiologi apendisitis?
4. Apa manifestasi
klinik apendisitis?
5. Bagaimana
patofisiologi apendisitis?
6. Bagaimana
penatalaksanaan apendisitis?
7. Apa komplikasi
apendisitis?
8. Bagaimana cara
memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan apendisitis?
1.3. Tujuan Penulisan
1.3.1.
Tujuan Umum :
Tujuan umum dari penulisan makalah
ini adalah untuk memenuhi tugas pembuatan makalah mata kuliah Sistem Pencernaan
II serta mempresentasikannya.
1.3.2.
Tujuan Khusus :
Tujuan khusus penulisan makalah ini
adalah :
1. Untuk
mengetahui anatomi dan fisiologi apendisitis
2. Untuk memahami
definisi dari apendisitis
3. Mengetahui
etiologi apendisitis
4. Dapat mengetahui
manifestasi klinik apendisitis
5. Memahami
patofisiologi apendisitis
6. Mengetahui
penatalaksanaan apendisitis
7. Mengetahui
komplikasi apendisitis
8. Mengetahui dan
mampu memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan apendisitis
1.4.
Metode Penulisan
Makalah ini disusun dengan melakukan studi pustaka dari
berbagai buku referensi dan internet.
1.5. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dari makalah ini adalah BAB I
PENDAHULUAN, terdiri dari : latar
belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan, sistematika
penulisan dan manfaat penulisan. BAB II PEMBAHASAN, dan BAB III ASUHAN
KEPERAWATAN, BAB IV PENUTUP terdiri dari kesimpulan dan saran.
1.6. Manfaat Penulisan
1.
Mengetahui letak atau posisi anatomi dan fisiologi apendisitis
2.
Mengetahui penyebab dan proses perjalanan penyakit apendisitis
3.
Memahami
parameter pengkajian yang tepat untuk menentukan status fungsi gastrointestinal
4. Mampu membuat asuhan keperawatan
pada pasien dengan gangguan apendisitis
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Anatomi dan Fisiologi Appendix
Appendix
vermiformis (umbai cacing) adalah sebuah tonjolan dari apex caecum, tetapi
seiring pertumbuhan dan distensi caecum.
Posisi
apendiks terletak posteromedial caecum. Di daerah inguinal: membelok ke
arah di dinding abdomen dan posisinya bervariasi. Appendiks terletak di ujung
sakrum kira-kira 2 cm di bawah anterior ileo saekum, bermuara di bagian
posterior dan medial dari saekum. Pada pertemuan ketiga taenia yaitu: taenia
anterior, medial dan posterior. Secara klinik appendiks terletak pada daerah
Mc. Burney yaitu daerah 1/3 tengah garis yang menghubungkan sias kanan dengan
pusat.
Panjang
apendiks rata-rata 6 – 9 cm. Lebar 0,3 – 0,7 cm. Isi 0,1 cc, cairan bersifat
basa mengandung amilase dan musin.
Apendiks
menghasilkan lender 1-2 ml per hari. Lendir itu normalnya dicurahkan kedalam
lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Hambatan aliran lender di muara
apendiks tampaknya berperan pada pathogenesis apendisitis.
Immunoglobulin
sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (gut associated lymphoid tissue) yang
terdapat disepanjang saluran cerna termasuk apendiks ialah IgA. Imunoglobulin
itu sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi. Namun demikian,
pengangkatan apendiks tidak mempengaruhi system imun tubuh karena jumlah
jaringan limfe disini kecil sekali jika dibandingkan dengan jumahnya disaluran
cerna dan diseluruh tubuh.
2.2
Definisi
Apendiksitis adalah radang apendiks, suatu tambahan seperti
kantung yang tak berfungsi terletak pada bagian inferior dari sekum. Penyebab
yang paling umum dari apendisitis adalah obstruksi lumen oleh feses yang
akhirnya merusak suplai aliran darah dan mengikis mukosa menyebabkan inflamasi
(Wilson & Goldman, 1989).
Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada di umbai
cacing (apendiks). Infeksi ini bisa terjadi pernanahan. Bila infeksi bertambah
parah, apendiks itu bisa pecah.
Apendiksitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut
pada kuadran bawah kanan rongga abdomen, penyebab paling umum untuk bedah
abdomen darurat (Smeltzer, 2001).
2.3. Etiologi
Appendisitis belum ada penyebab yang pasti atau spesifik
tetapi ada factor-faktor prediposisi yang menyertai. Faktor tersering yang
muncul adalah obtruksi lumen.
1. Pada umumnya obstruksi ini terjadi
karena :
a. Hiperplasia dari folikel limfoid, ini
merupakan penyebab terbanyak.
b. Adanya faekolit dalam lumen appendiks.
c. Adanya benda asing seperti biji –
bijian. Seperti biji Lombok, biji jeruk dll.
d. Striktura lumen karena fibrosa akibat
peradangan sebelumnya
2. Infeksi kuman dari colon yang paling
sering adalah E. Coli dan streptococcus
3. Laki – laki lebih banyak dari wanita.
Yang terbanyak pada umur 15 – 30 tahun (remaja dewasa). Ini disebabkan oleh
karena peningkatan jaringan limpoid pada masa tersebut.
4. Tergantung pada bentuk appendiks.
5. Appendik yang terlalu panjang.
6. Appendiks yang pendek.
7. Penonjolan jaringan limpoid dalam lumen
appendiks.
8. Kelainan katup di pangkal appendiks.
2.4. Manifestasi Klinik
Nyeri terasa pada abdomen kuadran kanan bawah menembus
kebelakang (kepunggung) dan biasanya disertai oleh demam ringan, mual, muntah
dan hilangnya nafsu makan. Nyeri tekan lokal pada titik Mc. Burney bila
dilakukan tekanan. Nyeri tekan lepas mungkin akan dijumpai.
Derajat nyeri tekan, spasme otot, dan apakah terdapat konstipasi atau diare tidak tergantung pada
beratnya infeksi dan lokasi appendiks. Bila appendiks melingkar di belakang
sekum, nyeri dan nyeri tekan dapat terasa di daerah lumbal, bila ujungnya ada
pada pelvis, tanda-tanda ini hanya dapat diketahui pada pemeriksaan rektal.
Nyeri pada defekasi menunjukkan bahwa ujung appendiks dekat dengan kandung
kemih atau ureter. Adanya kekeakuan pada bagian bawah otot rektum kanan dapat
terjadi.
Palpasi kuadran bawah kiri, yang secara paradoksial
menyebabkan nyeri yang terasa pada kuadran bawah kanan. Apabila appendiks telah
ruptur, nyeri dan dapat lebih menyebar, distensi abdomen terjadi akibat ileus
paralitikdan kondisi klien memburuk.
2.5. Patofisiologi
Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen
appendiks. Obst tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa appendiks
mengalami bendungan. Semakin lama mukus tersebut semakin banyak, namun elasitas
dinding appendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan
tekanan intra lumen. Tekanan tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan
edema dan ulaserasi mukosa. Pada saat itu terjadi apendisitis akut fokal yang
ditandai dengan nyeri
epigastrium.
Bila sekresi mukus berlanjut, tekanan akan terus meningkat.
Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah dan bakteri akan
menembus dinding sehingga peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum
yang dapat menimbulkan nyeri pada abdomen kanan bawah yang disebut apendisitis
supuratif akut.
Apabila aliran arteri terganggu maka akan terjadi infrak
dinding appendiks yang diikuti ganggren. Stadium ini disebut apendisitis
ganggrenosa. Bila dinding appendiks rapuh maka akan terjadi prefesional disebut
appendikssitis perforasi.
Bila proses berjalan lambat, omentum dan usus yang
berdekatan akan bergerak ke arah appendiks hingga muncul infiltrat
appendikkularis. Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses atau
menghilang.
Omentum pada anak-anak lebih pendek dan appendiks lebih
panjang, dinding lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh
yang masih kurang memudahkan untuk terjadi perforasi. Sedangkan pada orang tua
mudah terjadi karena ada gangguan pembuluh darah.
2.6. Penatalaksanaan
Pada apendisitis akut, pengobatan yang paling baik adalah
operasi appendiks. Dalam waktu 48 jam harus dilakukan. Penderita di obsevarsi,
istirahat dalam posisi fowler, diberikan antibiotik dan diberikan makanan yang
tidak merangsang peristaltik, jika terjadi perforasi diberikan drain diperut
kanan bawah.
1. Tindakan pre operatif, meliputi
penderita di rawat, diberikan antibiotik dan kompres untuk menurunkan suhu penderita,
pasien diminta untuk tirah baring dan dipuasakan
2. Tindakan operatif : appendiktomi
3. Tindakan post operatif, satu hari pasca
bedah klien dianjurkan untuk duduk tegak di tempat tidur selama 2 x 30 menit,
hari berikutnya makanan lunak dan berdiri tegak di luar kamar, hari ketujuh
luka jahitan diangkat, klien pulang.
2.7. Komplikasi
1. Perforasi dengan pembentukan abses
2. Peritonitis generalisata
3. Pieloflebitis dan abses hati (jarang
terjadi)
2.8WOC
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1. Pengkajian
1. Data demografi
Identitas
klien : nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku/bangsa,
pendidikan, pekerjaan, alamat, nomor register.
2. Riwayat kesehatan
a) Keluhan utama
Nyeri
pada daerah abdomen kanan bawah.
b) Riwayat kesehatan sekarang
Pasien
mengatakan nyeri pada daerah abdomen kanan bawah yang menembus kebelakang
sampai pada punggung dan mengalami demam tinggi
c) Riwayat kesehatan dahulu
Apakah
klien pernah mengalami operasi sebelumnya pada colon.
d) Riwayat kesehatan keluarga
Apakah
anggota keluarga ada yang mengalami jenis penyakit yang sama.
3. Pemeriksaan fisik ROS (review of
system)
a) Kedaan umum : kesadaran composmentis,
wajah tampak menyeringai, konjungtiva anemis.
b) Sistem kardiovaskuler : ada distensi vena
jugularis, pucat, edema, TD >110/70mmHg; hipertermi.
c) Sistem respirasi : frekuensi nafas
normal (16-20x/menit), dada simetris, ada tidaknya sumbatan jalan nafas, tidak
ada gerakan cuping hidung, tidak terpasang O2, tidak ada ronchi,
whezing, stridor.
d) Sistem hematologi : terjadi peningkatan
leukosit yang merupakan tanda adanya infeksi dan pendarahan.
e) Sistem urogenital : ada ketegangan
kandung kemih dan keluhan sakit pinggang serta tidak bisa mengeluarkan urin
secara lancar
f) Sistem muskuloskeletal : ada kesulitan
dalam pergerakkan karena proses perjalanan penyakit
g) Sistem Integumen : terdapat oedema, turgor
kulit menurun, sianosis, pucat.
h) Abdomen : terdapat nyeri tekan, peristaltik
pada usus ditandai dengan distensi abdomen.
4. Pola fungsi kesehatan menurut Gordon
a) Pola persepsi dan tatalaksana hidup
sehat
Adakah
ada kebiasaan merokok, penggunaan obat-obatan, alkohol dan kebiasaan olah
raga (lama frekwensinya), karena dapat mempengaruhi lamanya penyembuhan luka.
b) Pola nutrisi dan metabolisme
Klien
biasanya akan mengalami gangguan pemenuhan nutrisi akibat pembatasan intake
makanan atau minuman sampai peristaltik usus kembali normal.
c) Pola Eliminasi
|
NO
|
DATA
PENUNJANG
|
MASALAH
|
ETIOLOGI
|
|
1
|
DS : pasien mengatakan nyeri pada
abdomen kanan bawah tembus ke punggung
DO :
Ø Wajah tampak menyeringai
Ø P
: nyeri karena adanya perangsangan
Ø Q
: nyeri seperti tertusuk-tusuk
Ø R
: nyeri dibagian kanan bawah abdomen
Ø S
: skala nyeri 8
Ø T
: nyeri terjadi saat ditekan
|
Gangguan rasa nyaman (nyeri)
|
Adanya perangsangan pada
epigastrium
|
|
2
|
DS : -
DO :
Ø TTV : Suhu 380C; Nadi
>80x/menit; TD >110/70 mmHg; RR >20x/menit
Ø Terdapat luka insisi bedah
|
Resiko terjadi infeksi
|
Diskontinuitas jaringan sekunder
terhadap luka insisi bedah
|
|
3
|
DS : Pasien mengatakan haus
DO :
Ø Ada
tanda-tanda dehidreasi :
Membrane
mukosa kering
Turgor
kulit menurun >2detik
Ø Urin
pekat (oliguri <500 cc/hari)
Ø TTV
tidak stabil:
TD >120/80 mmHg
Nadi
>80x/menit
RR
: >20x/menit
Suhu
: >37,50C
|
Kekurangan volume cairan
|
Pembatasan cairan pascaoperasi
sekunder terhadap proses penyembuhan
|
|
4
|
DS : Pasien dan keluarga mgatakan
tidak mengetahui tentang proses penyakit dan pengobatannya
DO :
Ø Bertanya mengenai informasi proses
penyakit
Ø Bertanya tentang perawatan
pascaoperasi
Ø Bertanya tentang pengobatan
|
Kurang pengetahuan
|
tidak mengenal informasi tentang
kebutuhan pengobatan/ perawatan pasca pembedahan
|
Pada
pola eliminasi urine akibat penurunan daya konstraksi kandung kemih, rasa nyeri
atau karena tidak biasa BAK ditempat tidur akan mempengaruhi pola
eliminasi urine. Pola eliminasi alvi akan mengalami gangguan yang sifatnya
sementara karena pengaruh anastesi sehingga terjadi penurunan fungsi.
d) Pola aktifitas
Aktifitas
dipengaruhi oleh keadaan dan malas bergerak karena rasa nyeri, aktifitas
biasanya terbatas karena harus bedrest berapa waktu lamanya setelah pembedahan.
e) Pola sensorik dan kognitif
Ada
tidaknya gangguan sensorik nyeri, penglihatan serta pendengaran, kemampuan
berfikir, mengingat masa lalu, orientasi terhadap orang tua, waktu dan tempat.
f) Pola Tidur dan Istirahat
Insisi
pembedahan dapat menimbulkan nyeri yang sangat sehingga dapat mengganggu
kenyamanan pola tidur klien.
g) Pola Persepsi dan konsep diri
Penderita
menjadi ketergantungan dengan adanya kebiasaan gerak segala kebutuhan harus
dibantu. Klien mengalami kecemasan tentang keadaan dirinya sehingga
penderita mengalami emosi yang tidak stabil.
h) Pola hubungan
Dengan
keterbatasan gerak kemungkinan penderita tidak bisa melakukan peran baik dalam
keluarganya dan dalam masyarakat.
penderita
mengalami emosi yang tidak stabil.
i) Pola Reproduksi seksual
Adanya
larangan untuk berhubungan seksual setelah pembedahan selama beberapa waktu.
j) Pola penanggulangan stress
Sebelum
MRS : klien kalau setres mengalihkan
pada hal lain.
Sesudah
MRS : klien kalau stress murung sendiri, menutup diri
k) Pola tata nilai dan kepercayaan
Sebelum
MRS : klien rutin beribadah, dan tepat waktu.
Sesudah
MRS : klien biasanya tidak tepat waktu beribadah.
5. Pemeriksaan diagnostik
a) Ultrasonografi adalah diagnostik untuk
apendistis akut
b) Foto polos abdomen : dapat memperlihatkan
distensi sekum, kelainan non spesifik seperti fekalit dan pola gas dan cairan
abnormal atau untuk mengetahui adanya komplikasi pasca pembedahan
c) Pemeriksaan darah rutin : untuk
mengetahui adanya peningkatan leukosit yang merupakan tanda adanya infeksi
d) Pemeriksaan Laboratorium
§ Darah : Ditemukan leukosit 10.000 – 18.0000 µ/ml
§ Urine : Ditemukan sejumlah kecil leukosit dan
eritrosit.
3.2.
Diagnosa Keperawatan
ANALISA
DATA
Diagnosa
keperawatan apendisitis :
Pre-op
:
1. Ganggan rasa nyaman (nyeri) b/d adanya
perangsangan pada epigastrium
Post-op
:
2. Resiko terjadi infeksi b/d
diskontinuitas jaringan sekunder terhadap luka insisi bedah
3. Kekurangan volume cairan b/d pembatasan
cairan pascaoperasi sekunder terhadap proses penyembuhan
4. Kurang pengetahuan b/d tidak mengenal
informasi tentang kebutuhan pengobatan/ perawatan pasca pembedahan
3.3.
Intervensi
1. Dx kep. 1 : Ganggan rasa nyaman (nyeri)
b/d adanya perangsangan pada epigastrium
Tujuan
: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan nyeri
pasien dapat berkurang
KH
: Nyeri hilang, skala 0-3, pasien tampak rileks, mampu tidur/ istirahat selama
7-9 jam dalam sehari
|
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
|
Kaji
nyeri, catat lokasi, karakteristik, beratnya (skala 0-10)
|
Berguna
dalam pengawasan keefektifan obat, kemajuan penyembuhan. Perubahan pada
karakteristik nyeri, menunjukkan terjadinya abses/peritonitis.
|
|
Pertahankan
istirahat dengan posisi semi fowler
|
Menghilangkan
tegangan abdomen yang bertambah dengan posisi terlentang
|
|
Dorong
ambulasi dini
|
Merangsang
peristaltik dan kelancaran flatus, menurunkan ketidaknyamanan abdomen
|
|
Berikan
aktifitas hiburan
|
Meningkatkan
relaksasi dan dapat meningkatkan kemampuan koping
|
|
Kolaborasi
pemberian analgetik
|
Menghilangkan
dan mengurangi nyeri
|
2. Dx kep. 2 : Resiko terjadi infeksi b/d
diskontinuitas jaringan sekunder terhadap luka insisi bedah
Tujuan
: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam klien tidak
menunjukkan tanda dan gejala infeksi
KH
: Meningkatkan penyembuhan luka dengan benar, drainase purulen, tidak ada
eritema dan tidak ada demam. Tidak ada tanda-tanda infeksi (rubor, dolor ) luka
bersih dan kering
|
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
|
Awasi
TTV. Perhatikan demam menggigil, berkeringat, perubahan mental.
|
Dugaan
adanya infeksi/ terjadinya sepsis, abses
|
|
Lakukan
pencucian tangan yang baik dan perawatan luka aseptic
|
Menurunkan
risiko penyebaran bakteri
|
|
Lihat
insisi dan balutan. Catat karakteristik drainase luka
|
Memberikan
deteksi dini terjadinya proses infeksi
|
|
Berikan
informasi yang tepat pada pasien/ keluarga pasien
|
Pengetahuan
tentang kemajuan situasi memberikan dukungan emosi, membantu menurunkan
ansietas
|
|
Berikan
antibiotik sesuai indikasi
|
Mungkin
diberikan secara profilaktik atau menurunkan jumlah organisme (pada infeksi
yang ada sebelumnya) untuk menurunkan penyebaran dan pertumbuhannya
|
3. Dx kep 3 : Kekurangan volume cairan b/d
pembatasan cairan pascaoperasi sekunder terhadap proses penyembuhan
Tujuan
: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan pasien
dapat mempertahankan keseimbangan cairan
KH
: Tidak ada tanda-tanda dehidrasi : membran mukosa lembab, turgor kulit baik
(< 2 detik), TTV stabil (TD : 110/70-120/80 mmHg; RR : 16-20x/menit; N :
60-100x/menit; S : 36,5- 37,50 C), haluaran urin adekuat.
|
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
|
Observasi
TTV
|
Tanda yang membantu mengidentifikasi fluktuasi volume
intravaskuler
|
|
Observasi membran mukosa, kaji turgor kulit dan pengisian
kapiler
|
Indikator keadekuatan intake cairan dan elektrolit
|
|
Awasi intake dan output, catat warna urine/konsentrasi,
berat jenis
|
Penurunan pengeluaran urine pekat dengan peningkatan berat
jenis diduga dehidrasi/kebutuhan cairan meningkat
|
|
Auskultasi bising usus,
catat kelancaran flatus dan, gerakan usus
|
Indikator kembalinya peristaltik, kesiapan untuk pemasukan
per oral
|
|
Berikan sejumlah kecil minuman jernih bila pemasukan
peroral dimulai, dan lanjutkan dengan diet sesuai toleransi
|
Menurunkan iritasi gaster/muntah untuk meminimalkan
kehilangan cairan
|
4. Dx kep. 4 : Kurang pengetahuan b/d
tidak mengenal informasi tentang kebutuhan pengobatan/ perawatan pasca
pebedahan
Tujuan
: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan pasien dan
keluarga mampu memahami dan mengerti tentang proses penyakit dan pengobatannya
KH
: Berpartisipasi dalam program pengobatan
|
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
|
Kaji
ulang pembatasan aktifitas pascaoperasi
|
Memberikan
informasi pada pasien untuk merencanakan kembali rutinitas biasa tanpa
menimbulkan masalah
|
|
Anjurkan
menggunakan laksatif/ pelembek feses ringan bila perlu dan hindari enema
|
Membantu
kembali ke fungsi usus, mencegah mengejan saat defekasi
|
|
Diskusikan
perawatan insisi, termasuk mengganti balutan, pembatasan mandi, dan kembali
ke dokter untuk mengangkat jahitan/pengikat
|
Pemahaman
peningkatan kerja sama dengan program terapi, meningkatkan penyembuhan dan
proses perbaikan
|
BAB IV
PENUTUP
4.1.
Kesimpulan
Appendix vermiformis (umbai cacing)
adalah sebuah tonjolan dari apex caecum, tetapi seiring pertumbuhan dan
distensi caecum. Panjang
apendiks rata-rata 6 – 9 cm. Lebar 0,3 – 0,7 cm. Apendiks menghasilkan lender
1-2 ml per hari. Lendir itu normalnya dicurahkan kedalam lumen dan selanjutnya
mengalir ke sekum. Hambatan aliran lender di muara apendiks tampaknya berperan
pada pathogenesis apendisitis. Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh
GALT (gut associated lymphoid tissue) yang terdapat disepanjang saluran cerna
termasuk apendiks ialah IgA. Imunoglobulin itu sangat efektif sebagai pelindung
terhadap infeksi.
Apendiksitis adalah radang apendiks, suatu tambahan seperti
kantung yang tak berfungsi terletak pada bagian inferior dari sekum. Penyebab yang
paling umum dari apendisitis adalah obstruksi lumen oleh feses yang akhirnya
merusak suplai aliran darah dan mengikis mukosa menyebabkan inflamasi (Wilson
& Goldman, 1989).
Appendisitis belum ada penyebab yang pasti atau spesifik
tetapi ada factor-faktor prediposisi yang menyertai. Faktor tersering yang
muncul adalah obtruksi lumen.
1. Pada umumnya obstruksi ini terjadi
karena :
a. Hiperplasia dari folikel limfoid, ini
merupakan penyebab terbanyak.
b. Adanya faekolit dalam lumen appendiks.
c. Adanya benda asing seperti biji –
bijian. Seperti biji Lombok, biji jeruk dll.
d. Striktura lumen karena fibrosa akibat
peradangan sebelumnya
2. Infeksi kuman dari colon yang paling
sering adalah E. Coli dan streptococcus
Tanda dan gejalanya adalah nyeri terasa pada abdomen kuadran
kanan bawah menembus kebelakang (kepunggung) dan biasanya disertai oleh demam
ringan, mual, muntah dan hilangnya nafsu makan. Nyeri tekan lokal pada titik
Mc. Burney bila dilakukan tekanan.
Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen
appendiks. Obst tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa appendiks
mengalami bendungan. Semakin lama mukus tersebut semakin banyak, namun elasitas
dinding appendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan
intra lumen. Tekanan tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan
edema dan ulaserasi mukosa. Pada saat itu terjadi apendisitis akut fokal yang
ditandai dengan nyeri
epigastrium.
Bila sekresi mukus berlanjut, tekanan akan terus meningkat.
Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah dan bakteri akan
menembus dinding sehingga peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum
yang dapat menimbulkan nyeri pada abdomen kanan bawah yang disebut apendisitis
supuratif akut.
Apabila aliran arteri terganggu maka akan terjadi infrak
dinding appendiks yang diikuti ganggren. Stadium ini disebut apendisitis
ganggrenosa. Bila dinding appendiks rapuh maka akan terjadi prefesional disebut
appendikssitis perforasi.
Pada apendisitis akut, pengobatan yang paling baik adalah
operasi appendiks. Dalam waktu 48 jam harus dilakukan. Penderita di obsevarsi,
istirahat dalam posisi fowler, diberikan antibiotik dan diberikan makanan yang
tidak merangsang peristaltik, jika terjadi perforasi diberikan drain diperut
kanan bawah.
Komplikasinya :
1. Perforasi dengan pembentukan abses
2. Peritonitis generalisata
3. Pieloflebitis dan abses hati (jarang
terjadi)
Cara memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan
gangguan apendisitis meliputi pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi
dan evaluasi.
4.2.
Saran
Kepada seluruh pembaca baik mahasiswa maupun dosen
pembimbing untuk melakukan kebiasaan hidup sehat, karena pola hidup tidak sehat
tentu tidak benar dan harus dihindari, pengetahuan tentang penyakit dan makanan
menjadi prioritas utama untuk menanamkan pola hidup sehat. Salah satu penyakit
yang timbul pada sistem pencernaan adalah apendisitis.
DAFTAR
PUSTAKA
Price, Sylvia Anderson. 2005. PATOFISIOLOGI : konsep
klinis proses-proses penyakit. Jakarta : EGC.
R. Sjamsuhidajat, Wim de Jong. 2004. Buku-Ajar Ilmu
Bedah. Jakarta : EGC.
Syaifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa
Keperawatan. Jakarta : EGC.
Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan
untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta : EGC.
Sloane, Ethel. 2004. Anatomi Dan Fisiologi Untuk Pemula. Jakarta
: EGC.
______, 2007, apendisitis, terdapat pada:www.
harnawatiarjwordpress.com diakses tanggal 1 Juni 2008.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar